Showing posts with label Orang Shalih. Show all posts
Showing posts with label Orang Shalih. Show all posts
Wednesday, July 3, 2013 0 komentar

Isnad itu bagian dari agama...

[Faedah]
selalu ingat perkataan imam ibnul mubarak ini

الإِسْنَادُ مِنَ الدِّينِ وَلَوْلاَ الإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ

"Sanad itu bagian dari agama. Kalaulah bukan karena sanad maka orang akan berkata sesukanya"

Imam An-Nawawi (intinya) menyebutkan,"tidaklah diterima hadits kecuali yang shahih"
Saksikanlah hari ini. Banyak sekali orang berkata sesukanya, seenaknya menyandarkan hadits pada nabi, dst. Kenapa? Karena perkataan ibnul mubarak ini sudah diacuhkan, hadits-hadits dianggap sama semua. Maka untuk orang yang berkhotbah, atau berdakwah, sudah semestinya berhati-hati dalam menyampaikan hadits. Karena masyarakat sudah banyak yang tidak tahu menahu seputar hadits kecuali apa yang disampaikan oleh da'i. Ketika da'i salah, maka masyarakat tetap menganggap dia benar. Semestinya kita takut pada sabda Rasul ini

من كذب على متعمدا فليتبوأ مقعده على النار

Barangsiapa yang berdusta atasku dengan sengaja, maka hendaklah dia mempersiapkan tempat duduknya di neraka (muttafaq 'alaihi)

مَنْ حَدَّثَ عَنِّى بِحَدِيثٍ يُرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبِينَ

Barangsiapa yang menyampaikan dariku sebuah hadits yang dia melihat/mengira hadits itu merupakan suatu kebohongan (atas nabi) maka dia merupakan salah satu dari dua pembohong (H.R. Muslim)

Sumber: Akh Zuhroni Ali Fikri -hafizhahullah
Saturday, February 4, 2012 0 komentar

Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi'i .:. Mutiara Sunnah dari Negeri Yaman



SYAIKH MUQBIL BIN HADI AL-WADI’I
Mutiara Sunnah dari Negeri Yaman

Oleh Abu ‘Aisyah Arif Fathul Ulum ::: fii kitaabihii “Barisan Ulama Pembela Sunnah Nabawiyah” Ed 1

Nama dan Nasab Beliau
Beliau adalah Syaikh al-‘Allamah al-Muhaddits Abu ‘Abdirrahman Muqbil bin Hadi bin Qayidah al-Hamdany al-Wadi’i al-Khilaly rahimahullaah.

Kelahiran Beliau
Beliau rahimahullaah dilahirkan pada tahun 1352 H di Damaj Yaman, sebuah lingkungan Zaidiyah (salah satu sekte Syi’ah) yang bercirikan tashawwuf, mu’tazilah, dan berbagai bid’ah lainnya.

Pertumbuhan Ilmiah Beliau
Beliau rahimahullaah memulai pelajarannya di Maktab di sebuah desa yang bernama al-Wathan Damaj Yaman beberapa wakti kemudian berhenti karena tidak ada yang membantunya belajar. Kemudian beliau safar ke Riyadh Saudi ‘Arabia dan tinggal di sana sekitar sebulan setengah. Ketika cuaca Riyadh berubah, maka beliau berangkat ke Makkah. Beliau meminta petunjuk kepada sebagian penceramah tentang kitab-kitab yang bermanfaat yang akan beliau beli, maka dinasehatilah agar membeli kitab Shahih al-Bukhari, Bulughul Maram, Riyaadhush Shaalihiin, dan Fat-hul Majid.

0 komentar

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah .:. Cahaya Sunnah dari Unaizah


SYAIKH MUHAMMAD BIN SHALIH AL-‘UTSAIMIN
Cahaya Sunnah dari Unaizah

Oleh Abu ‘Aisyah Arif Fathul Ulum ::: fii kitaabihii “Barisan Ulama Pembela Sunnah Nabawiyah” Ed 1

Nama dan Nasab Beliau
Beliau rahimahullaah adalah Syaikh al-‘Allamah Abu ‘Abdillah Muhammad bin Shalih bin Muhammad bin Sulaiman bin ‘Abdurrahman al-‘Utsaimin al-Wuhaiby at-Tamimy.
Kelahiran Beliau

Beliau rahimahullaah dilahirkan pada malam 27 Ramadhan 1347 H di Unaizah, salah satu kawasan Qashim, Saudi Arabia, dalam lingkungan keluarga yang penuh dengan pancaran ilmu.

Pertumbuhan Ilmiah dan Guru-Guru Beliau
Beliau rahimahullaah mempelajari al-Qur-anul Karim di bawah asuhan kakeknya dari pihak ibu, yaitu Syaikh ‘Abdurrahman bin Sulaiman Alu Damigh, kemudian mempelajari baca tulis dan hisab dan masuk ke sebuah madrasah. Beliau hafal al-Qur-anul Karim dalam usia dini, sebagainmana beliau juga telah hafal beberapa matan (isi/teks) kitab hadits dan fiqh ringkas.
0 komentar

Imam an-Nawawi .:. Teladan dalam Ilmu dan Ibadah



IMAM NAWAWI
Teladan dalam Ilmu dan Ibadah

Oleh Abu ‘Aisyah Arif Fathul Ulum hafizhahullaah di buku Barisan Ulama Pembela Sunnah Nabawiyah Cetakan 1.

Nama dan Nasab
Beliau rahimahullaah adalah al-Imam Muyhiddin Abu Zakariya Yahya bin Syaraf bin Murri bin Hasan bin Husain bin Jumu’ah bin Hizam al-Hizamy an-Nawawi asy-Syafi’i.

Kelahiran Beliau
Beliau rahimahullaah dilahirkan pada bulan Muharram tahun 631 H di Nawa daerah Hauran, termasuk wilayah Damaskus Syiria.

1 komentar

Syaikh Abdul Qadir al-Jailany .:. Pembela Syari’at dan Penghidup Agama



SYAIKH ABDUL QADIR AL-JAILANY
Pembela Syari’at dan Penghidup Agama

Oleh Abu ‘Aisyah Arif Fathul Ulum hafizhahullaah ::
dalam buku Barisan Ulama Pembela Sunnah Nabawiyah

Nama dan Nasab
Beliau rahimahullaah adalah al-Imam Syaikhul Islam Abu Muhammad ‘Abdul Qadir bin Shalih Musa Jinky Dust bin Abi ‘Abdilllah bin Yahya az-Zahid bin Muhammad bin Dawud bin Musa bin ‘Abdillah bin Musa al-Jaun bin ‘Abdillah bin Hasan al-Mutsanna bin Hasan bin ‘Ali bin Abi Thalib al-Jailani.

Kelahiran Beliau
Beliau rahimahullaah dilahirkan pada tahun 471 H di Jailan, sebuah negeri di belakang Thabaristan.

Sifat-Sifat Beliau
Beliau rahimahullaah adalah seorang yang dikenal dengan sifat-sifatnya yang agung,
Saturday, April 9, 2011 0 komentar

Al Imam Fudhail bin 'Iyadh rahimahullah

Penulis: Al Ustadz Zainul Arifin

Beliau dilahirkan di Samarqand dan dibesarkan di Abi Warda, suatu tempat di daerah Khurasan.
Beliau dilahirkan di Samarqand dan dibesarkan di Abi Warda, suatu tempat di daerah Khurasan.
Tidak ada riwayat yang jelas tentang kapan beliau dilahirkan, hanya saja beliau pernah menyatakan usianya waktu itu telah mencapai 80 tahun, dan tidak ada gambaran yang pasti tentang permulaan kehidupan beliau.
Sebagian riwayat ada yang menyebutkan bahwa dulunya beliau adalah seorang penyamun, kemudian Allah memberikan petunjuk kepada beliau dengan sebab mendengar sebuah ayat dari Kitabullah.
Disebutkan dalam Siyar A’lam An-Nubala dari jalan Al-Fadhl bin Musa, beliau berkata: “Adalah Al-Fudhail bin ‘Iyadh dulunya seorang penyamun yang menghadang orang-orang di daerah antara Abu Warda dan Sirjis. Dan sebab taubat beliau adalah karena beliau pernah terpikat dengan seorang wanita, maka tatkala beliau tengah memanjat tembok guna melaksanakan hasratnya terhadap wanita tersebut, tiba-tiba saja beliau mendengar seseorang membaca ayat:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِيْنَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوْبُهُمْ لِذِكْرِ اللهِ وَماَ نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلاَ يَكُوْنُوا كَالَّذِيْنَ أُوْتُوا الْكِتاَبَ مِنْ قَبْلُ فَطاَلَ عَلَيْهِمُ اْلأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوْبُهُمْ وَكَثِيْرٌ مِنْهُمْ فاَسِقُوْنَ

“Belumkah datang waktunya bagi orang –orang yang beriman untuk tunduk hati mereka guna mengingat Allah serta tunduk kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka) dan janganlah mereka seperti orang –orang yang sebelumnya telah turun Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras, dan mayoritas mereka adalah orang-orang yang fasiq.” (Al Hadid: 16)
Maka tatkala mendengarnya beliau langsung berkata: “Tentu saja wahai Rabbku. Sungguh telah tiba saatku (untuk bertaubat).” Maka beliaupun kembali, dan pada malam itu ketika beliau tengah berlindung di balik reruntuhan bangunan, tiba-tiba saja di sana ada sekelompok orang yang sedang lewat. Sebagian mereka berkata: “Kita jalan terus,” dan sebagian yang lain berkata: “Kita jalan terus sampai pagi, karena biasanya Al-Fudhail menghadang kita di jalan ini.” Maka beliaupun berkata: “Kemudian aku merenung dan berkata: ‘Aku menjalani kemaksiatan-kemaksiatan di malam hari dan sebagian dari kaum muslimin di situ ketakutan kepadaku, dan tidaklah Allah menggiringku kepada mereka ini melainkan agar aku berhenti (dari kemaksiatan ini). Ya Allah, sungguh aku telah bertaubat kepada-Mu dan aku jadikan taubatku itu dengan tinggal di Baitul Haram’.”
Sungguh beliau telah menghabiskan satu masa di Kufah, lalu mencatat ilmu dari ulama di negeri itu, seperti Manshur, Al-A’masy, ‘Atha’ bin As-Saaib serta Shafwan bin Salim dan juga dari ulama-ulama lainnya. Kemudian beliau menetap di Makkah. Dan adalah beliau memberi makan dirinya dan keluarganya dari hasil mengurus air di Makkah. Waktu itu beliau memiliki seekor unta yang beliau gunakan untuk mengangkut air dan menjual air tersebut guna memenuhi kebutuhan makanan beliau dan keluarganya.
Beliau tidak mau menerima pemberian-pemberian dan juga hadiah-hadiah dari para raja dan pejabat lainnya, namun beliau pernah menerima pemberian dari Abdullah bin Al-Mubarak.
Dan sebab dari penolakan beliau terhadap pemberian-pemberian para raja diduga karena keraguan beliau terhadap kehalalannya, sedang beliau sangat antusias agar tidak sampai memasuki perut beliau kecuali sesuatu yang halal.
Beliau wafat di Makkah pada bulan Muharram tahun 187 H.
(Diringkas dari Mawa’izh lil Imam Al-Fudhail bin ‘Iyadh, hal. 5-7)

http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=242
0 komentar

Al Qosim bin Muhammad Tabi'in Amanah dari Madinah

Penulis: Al Ustad Ahmad Hamdani

Al-Qasim yang banyak meriwayatkan hadits dari ‘Aisyah, Ibnu ‘Abbas, Abu Hurairah dan Aslam -bekas budak Ibnu ‘Umar radhiallahu 'anhuma-, merupakan seorang tabi’in yang tsiqah (amanah). Wajar jika kemudian ‘Umar bin Abdul ‘Aziz yang dikenal sebagai khalifah kelima yang adil, tertarik akan keamanahannya.

Al-Qasim yang banyak meriwayatkan hadits dari ‘Aisyah, Ibnu ‘Abbas, Abu Hurairah dan Aslam -bekas budak Ibnu ‘Umar radhiallahu 'anhuma-, merupakan seorang tabi’in yang tsiqah (amanah). Wajar jika kemudian ‘Umar bin Abdul ‘Aziz yang dikenal sebagai khalifah kelima yang adil, tertarik akan keamanahannya. Ia berkata, “Seandainya aku punya sedikit kekuasaan, aku akan jadikan Al-Qasim sebagai khalifah.” Al-Qasim kecil sabar menjalani takdir Allah sebagai anak yatim dalam tarbiyah istri Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, ‘Aisyah radhiallahu 'anha.
Al-Qasim, yang menurut Abdullah bin Az-Zubair radhiallahu 'anhuma adalah cucu Abu Bakar Ash Shiddiq radhiallahu 'anhu yang paling mirip dengan kakeknya ini, mengatakan: “‘Aisyah adalah seorang mufti wanita dari jaman Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman dan seterusnya sampai ia meninggal. Aku senantiasa bersimpuh menimba ilmu darinya dan juga duduk belajar kepada Ibnu ‘Abbas, Abu Hurairah dan Ibnu ‘Umar”. Ini adalah ungkapan yang mengisyaratkan antusiasnya terhadap ilmu din (agama) meskipun menanggung beban hidup berat sebagai anak yatim.

Ayyub, salah seorang ulama hadits, berkata, “Aku tidak melihat seorang pun yang lebih utama darinya. Ia tidak mau mengambil uang yang halal untuknya senilai seratus ribu dinar”. Ini adalah ungkapan seorang alim yang menunjukkan sifat wara’ dan keutamaan Al-Qasim. Bahkan kehati-hatiannya dalam berfatwa, ia katakan sendiri, “Seseorang hidup dengan kebodohan setelah mengetahui hak Allah, lebih baik baginya daripada ia mengatakan apa-apa yang ia tidak mengetahuinya.”
Adapun ketinggian ilmunya dinyatakan oleh beberapa ulama, di antaranya:
Anaknya, Abdurrahman bin Al-Qasim, berkata, “Ia adalah manusia paling utama di jamannya.” Abdurrahman bin Abiz-Zinad berkata, “Aku tidak melihat seorang yang lebih tahu tentang As Sunnah daripada Al-Qasim bin Muhammad, dan seseorang tidak dianggap lelaki hingga ia mengetahui As Sunnah, tak seorang pun yang lebih jenius akalnya darinya.” Khalid bin Nazar (menceritakan, red) dari Ibnu ‘Uyainah, katanya: “Orang yang paling mengetahui hadits ‘Aisyah ada tiga: Al-Qasim bin Muhammad, ‘Urwah bin Az-Zubair, dan ‘Amrah binti ‘Abdirrahman.”
Ia pun memiliki banyak hikmah yang ia ucapkan. Al-Imam Malik berkata, “Al-Qasim didatangi seorang penguasa Madinah yang akan menanyakan sesuatu, lalu Al-Qasim berkata, ‘Berkata dengan ilmu termasuk memuliakan diri sendiri’.” Al-Qasim juga berkata, “Allah menjadikan (bagi) kejujuran, (dengan) kebaikan yang akan datang sebagai ganti dari-Nya”.
Sebelum meninggal, Al-Qasim berwasiat kepada salah seorang anaknya, “Ratakanlah kuburku dan taburilah dengan tanah serta janganlah kamu menyebut-nyebut keadaanku demikian dan demikian.”

Al-Qasim, seorang tokoh tabi’in besar yang buta matanya di akhir kehidupannya, wafat pada masa kekhalifahan Yazid bin Abdil Malik bin Marwan, dalam usia 71 tahun. Tepatnya pada tahun 107 H, sewaktu menunaikan ibadah ‘umrah bersama Hisyam bin Abdil Malik di perbatasan antara kota Madinah dan Makkah.
Walllahu a’lam.

http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=203
 
 
;