Beliau terkenal ulama yang paling lembut ketika berbicara. Awal-awal di majelis Syaikh Abdurrozaq di Masjid Nabawi rasanya ada beberapa hal sepertinya beda dari majelis masyaikh yang lain. Iya, ternyata di majelis beliau banyak tholib dari Malaysia.Suatu fenomena yang aneh di Nabawi, soalnya tholib dari negara 'upin-ipin' tersebut kebanyakannya sufi tulen. Karena penasaran, ana tanya kenapa kok ikut dars Syaikh Abdurrozaq yang kata mereka beliau adalah Wahabi?
Ada jawaban, "Beliau bagus penyampeannye." "Beliau senang (mudah) bahasanye." dan jawaban lainnya.
Yang paling mengejutkan ada teman satu kelas yang nama aslinya Muhammad Khoirul Roziqin. Bagi yang paham bahasa Arab, itu adalah sebuah nama yang mengandung kesyirikan. Dia adalah juara lomba tahfidz Qur'an dari Malaysia. Beberapa kali namanya dikritik pengajar di kelas tapi tetap saja tidak diganti.
Sampai akhirnya setahun kemudian ana melihat dia sering hadir di majelis Syaikh Abdurrozaq dan sekarang ketika ada yang tanya namanya dia menjawab nama ana MUHAMMAD ABDURROZAQ. Meskipun nama di daftar absen belum diganti.
Alhamdulillah kelembutan seorang ulama bisa membawa perubahan beberapa tholib dari negara melayu tersebut.
(Febrian Fariyansyah, mahasiswa Univ. Islam Madinah)
Sumber: https://www.facebook.com/WebDanBlogAhlussunnah
Waktu itu sebelum pulang liburan, sempat keliling perpus Masjid Nabawi. Alhamdulillah menemukan buku tentang biografi Syaikh Muqbil karangan putri beliau, Ummu Abdillah Al-Wadi'iyyah.Salah satu hal yang mengejutkan ternyata Syaikh Muqbil belum hafal Al-Qur'an 30 juz. Meskipun begitu, kalau sedang istinbath dari Al-Qur'an beliau lebih hebat daripada murid-murid beliau yang sudah hafal Al-Qur'an dan juga beliau dikaruniai ilmu yang luas sampai-sampai Syaikh Al-Utsaimin menjuluki beliau "Mujaddid dari Negeri Yaman".
Begitulah ilmu kalau dibarokahi oleh Allah. Manfaatnya bisa dirasakan oleh pemiliknya dan orang lain. Berbeda dengan sebagian orang yang merasa sudah hafal berbagai kitab dan menyandang berbagai gelar, namun karena tidak dibarokahi sehingga tidak kelihatan manfaatnya bagi pada dirinya sendiri atau pun orang lain.
(Febrian Fariyansyah, mahasiswa Univ. Islam Madinah)
Sumber: https://www.facebook.com/WebDanBlogAhlussunnah
Ketika kita membaca biografi ulama, kita akan kagum dan mungkin kurang percaya pada amalan ibadah atau ilmu yang mereka capai. Di antaranya yang saya saksikan sendiri yaitu pada diri Syaikh Abdurrohman Muhyiddin.
Berawal 2 bulan yang lalu, ada ikhwan yang mengabari bahwa Syaikh Abdurrohman Muhyiddin punya majelis di masjid nabawi (bukan di kursi). Dars dimulai ba'da adzan Shubuh sampai iqomah, tapi selama musim haji dars diliburkan.
Alhamdulillah pekan kemarin sudah lihat dars beliau sudah mulai yaitu Umdatu Tafsir. Akhirnya saya berusaha mengikuti dars beliau yang dimulai setelah adzan Shubuh, tentunya dimulai ba'da sholat sunnah qobliyah.
Tapi anehnya, setiap mulai menyimak dars, saya merasa selalu ketinggalan beberapa paragraf. Padahal saya datang di awal dars yaitu ba'da adzan Shubuh. Ternyata ada ikhwah yang bilang bahwa dars dimulai sekitar seperempat jam sebelum adzan Shubuh.
Imam
al-Ajurri meriwayatkan dengan sanadnya dari al-Hasan, bahwa Abu Darda’
radhiyallahu’anhu berkata, “Perumpamaan ulama di tengah umat manusia
bagaikan bintang-bintang di langit yang menjadi penunjuk arah bagi
manusia.” (lihat Akhlaq al-’Ulama, hal. 29)
Imam al-Auza’i
rahimahullah berkata, “Ilmu yang sebenarnya adalah apa yang datang dari
para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka ilmu apapun
yang tidak berada di atas jalan itu maka pada hakikatnya itu bukanlah
ilmu.” (lihat Da’a'im Minhaj an-Nubuwwah, hal. 390-391)
Masruq
rahimahullah berkata, “Sekadar dengan kualitas ilmu yang dimiliki
seseorang maka sekadar itulah rasa takutnya kepada Allah. Dan sekadar
dengan tingkat kebodohannya maka sekadar itulah hilang rasa takutnya
kepada Allah.” (lihat Syarh Shahih al-Bukhari karya Ibnu Baththal,
1/136)
Sumber:

;
- Ikuti Kami di Twitter
- "Berlanggan Kiriman kami di Facebook
- RSS
Contact